XI. Teori Ketergantungan

      Teori Ketergantungan adalah merupakan salah satu kelompok dari Teori Struktural yang menekankan lingkungan material manusia, yakni organisasi kemasyarakatan beserta sistem imbalan-imbalan material yang diberikannya, perubahan-perubahan pada lingkungan material manusia termasuk perubahan-perubahan teknologi. Ada dua induk teori ketergantungan Pertama adalah seorang Ekonom Liberal, yakni Raul prebish. Induk kedua adalah teori-teori Marxis tentang imperialisme dan kolonialisme.

      Ada 6 inti pembahasan teori ketergantungan:
1. Pendekatan keseluruhan melalui pendekatan kasus.
       Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan pada sisitem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, dimana negara pinggiran hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan mekanisme kapitalis dunia menjadi perhatian pendekatan ini.
2. Pakar eksternal melawan internal.
       Para pengikut teori ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor ini, ada yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des Santos. Sebaliknya ada yang menekankan factor internal yang mempengaruhi/ menyebabkan ketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto.
3. Analisis ekonomi melawan analisi sosiopolitik
       Raul Plebiech memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yang ditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakai disiplin ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori ketergantungan dimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimana analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi dan interdisipliner. Analisis sosiopolitik menekankan analisa kelas, kelompok sosial dan peran pemerintah di negara pinggiran.
4. Kontradiksi sektoral/regional melawan kontradiksi kelas.
       Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan negara-negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang memakai kontradiksi regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan kelompok lainya menekankan analisis klas, seperti Cardoso.
5. Keterbelakangan melawan pembangunan.
       Teori ketergantungan sering disamakan dengan teori tentang keterbelakangan dunia ketiga. Seperti dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori ketergantungan yang lain seperti Dos Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan dan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan.
6. Voluntarisme melawan determinisme
       Penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai suatu yang deterministic. Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke kapitalisme dan akan kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya melalui teori ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran adalah keterbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah penganut teori voluntaristik.

X. Teori Fei-Ranis

      Teori pertumbuhan ekonomi Ranis-Fei, seperti dapat disimpulkan dari namanya, di kembangkan oleh dua orang ahli ekonomi, yaitu Gustav Ranis jan John Fei. Teori tersebut pertamakali di kemukakan dalam tulisan mereka yang berjudul A Theory of Economic Growth,  yang diterbitkan dalam American Economic Review; dan selanjutnya disempurnakan dan dilengkapi lagi dalam buku mereka, Development of the labour Surplus Economy. menelaah proses peralihan yang diharapkan akan dilewati suatu negara terbelakang untuk beranjak dari keadaan stagnasi ke arah pertumbuhan swadaya. Sebagai penyempurnaan dari teori Lewis mengenai persediaan buruh yang tidak terbatas.
       Teori Ranis dan Fei dimaksudkan sebagai teori pertumbuhan untunk negara yang menghadapi masalah kelebihan penduduk sehingga menghadapi masalah pengganguran serius, dan kekayaan alam yang tersedia dapat dikembangkan sangat terbatas. Selain itu analisis Ranis dan Fei lebih banyak di berikan kepada perubahan-perubahan yang terjadi di sektor pertanian. 
       Ranis dan Fei secara lebih terperinci menunjukan pengaruh dari perubahan produktivitas tenaga kerja di sektor kapitalis atau sektor modern kepada corak proses pembangunan, akan tetapi juga menunjukan akibat kemajuan tingkat produktivitas kegiatan- kegiatan di sektor pertanian terhadap pembangunan ekonomi yang akan tercipta. Analisis Ranis dan Fei juga menunjukan pengaruh dari pertambahan penduduk terhadap proses pertumbuhan ekonomi, pengaruh system pasar terhadap interaksi di antara sektor pertanian dan industri dan jangka masa.
       Teori Fei-Ranis: Suatu negara yang kelebihan buruh dan perekonomiannya miskin sumberdaya, sebagian besar penduduk bergerak disektor pertanian di tengah pengangguran yang hebat dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Ekonomi pertaniannya mandeg. Di sana terdapat sektor industri yang aktif dan dinamis. Pembangunan terdiri dari pengalokasian kembali surplus tenaga kerja pertanian yang sumbangannya terhadap output nol, ke industri dimana mereka menjadi produktif dengan upah yang sama. Asumsi yang digunakan:
  1. Ekonomi dua-muka yang terbagi dalam sektor pertanian tradisional yang mandeg dan sektor industri yang aktif,
  2. Output sektor pertanian adalah fungsi dari tanah dan buruh saja,
  3. Di sektor pertanian tidak ada akumulasi modal, kecuali reklamasi,
  4. Penawaran tanah bersifat tetap,
  5. Kegiatan pertanian ditandai dengan hasil (return to scale) yang tetap dengan buruh sebagai faktor variabel,
  6. Produktivitas marginal buruh nol,
  7. Output sektor industri merupakan fungsi dari modal dan buruh saja,
  8. Pertumbuhan penduduk sebagai fenomena eksogen,
  9. Upah nyata di sektor pertanian dianggap tetap dan sama dengan tingkat pendapatan
    nyata sektor pertanian,
  10. Pekerja di masing-masing sektor hanya mengkonsumsikan produk-produk pertanian.
Berdasar asumsi tersebut, telaah pembangunan ekonomi surplus-buruh menjadi 3 tahap:
  1. Para penganggur tersamar, dialihkan dari pertanian ke industri dengan upah
    institusional yang sama,
  2.  Pekerja pertanian menambah keluaran pertanian tetapi memproduksi lebih kecil
    daripada upah institusional yang mereka peroleh,
  3. Buruh pertanian menghasilkan lebih besar daripada perolehan upah institusional.  
 

IX. Teori Myrdal

      Profesor Gunnar Myrdal berpendapat bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab-menyebab sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan semakin banyak, dan mereka tertinggal di belakang menjadi semakin terhambat.
      Prof. Myrdal yakin bahwa menerapkan gagasan keseimbangan-stabil sebagai dasar suatu teori yang dipergunakan untuk menjelaskan perubahan suatu sistem sosial adalah keliru. Tetapi, jika kita tetap menerapkan analisis keseimbangan tersebut, maka “suatu perubahan akan senantiasa menimbulkan reaksi di dalam sitem itu sendiri dalam bentuk perubahan-perubahan yang secara keseluruhan bergerak ke arah yang berlawanan dengan perubahan pertama. 
Gunnar Myrdal dalam bukunya yang Economic Theory and Underdeveloped Regions (1957) Menjelaskan sebuah konsep yang sekarang kita kenal sebagai proses kausasi kumulatif (circular cumulative causations). Menurut Myrdal, Pembangunan di negara-negara yang lebih maju akan menyebabkan keadaan yang dapat menimbulkan hambatan yang lebih besar bagi negara-negara yang terbelakang untuk dapat maju dan berkembang. Keadaan yang menghambat ini disebut sebagai backwash effects.
Menurut Myrdal, ada tiga faktor yang menyebabkan muncuknya backwash effects yaitu :
1.     Pola perpindahan penduduk (migrasi) dari negara miskin ke negara yang lebih maju.
2.     Pola aliran modal yang terjadi, Menurut Myrdal, ada tiga hal yang menyebabkan suatu negara miskin mengalami kesulitan dalam mengembangkan pasar atas hasil-hasil industrinya, sehhingga memperlambat perkembangan ekonomi di daerah tersebut.
a)     Kurangnya ketersediaan modal di negara miskin
b) Adanya kecenderungan bahwa modal lebih terjamin dan mampu menghasilkan pendapatan yng lebih tinggi d negara yang lebih maju
c)     Pola perdagangan didominasi oleh industri-industri di negar-negara yang lebih maju
3.    Jaringan transportasi yang lebih baik di negara-negara yang lebih maju.
Teori Myrdal
      Prof. Gunnar Myrdal berpendapat bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab-menyebab sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan semakin banyak, dan mereka yang tertinggal dibelakang menjadi semakin terhambat. Dampak balik (backwash effect) cenderung membesar dan dampak sebar (spread effect) cenderung mengecil. Secara komulatif kecendrungan ini semakin memperburuk ketimpangan internasional dan menyebabkan ketimpangan regional di Negara-negara terbelakang.


Tesis Myrdal
      Prof. Myrdal membangun teori keterbelakangan dan pembangunan ekonominya disekitar ide ketimpangan regional pada taraf nasional dan internasional. Untuk menjelaskan hal itu dia memakai ide ”dampak balik dan dampak sebar”. Dia mendefinisikan dampak balik  sebagai semua perubahan yang bersifat merugikan. Sedangkan dampak sebar menunjuk pada dampak memontum pembangunan yang menyebar secara sentrifugal dari pusat pengembangan ekonomi ke wilayah-wilayah lainnya.
18.  Teori pembangunan ekonomi Fei-Ranis
Teori John Fei dan Gustav Ranis
      Teori tersebut berkenaan dengan suatu Negara terbelakang yang kelebihan buruh disertai perekonomian yang miskin sumberdaya, dimana sebagian besar penduduk bergerak di bidang pertanian di tengah pengangguran hebat dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Ekonomi pertaniannya mandeg. Kebanyakan orang bergerak dilapangan pertanian tradisional, bidang-bidang nonpertanian memang ada, tetapi begitu banyak mempergunakan modal.
      Berdasarkan beberapa asumsi, maka Fei dan Ranis menelaah pembangunan ekonomi surplus-buruh menjadi tiga tahap, yaitu (1) tahap pertama, para penganggur tersamar, yang tidak menambah output pertanian, di alihkan ke sektor industri dengan upah institusional yang sama. (2) tahap kedua, pekerjaan pertanian menambah keluaran pertanian tapi memproduksi lebih kecil daripada upah institusional yang mereka peroleh. (3) tahap ketiga yang menandai akhir tahap landas dan awal pertumbuhan swasembada pada saat buruh pertanian menghasilkan lebih besar daripada perolehan upah institusional.
- See more at: http://h34lthy.blogspot.com/2012/10/tokoh-dan-teori-pembangunan-ekonomi_7465.html#sthash.mdNNOMcr.dpuf
Teori Myrdal
      Prof. Gunnar Myrdal berpendapat bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab-menyebab sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan semakin banyak, dan mereka yang tertinggal dibelakang menjadi semakin terhambat. Dampak balik (backwash effect) cenderung membesar dan dampak sebar (spread effect) cenderung mengecil. Secara komulatif kecendrungan ini semakin memperburuk ketimpangan internasional dan menyebabkan ketimpangan regional di Negara-negara terbelakang.


Tesis Myrdal
      Prof. Myrdal membangun teori keterbelakangan dan pembangunan ekonominya disekitar ide ketimpangan regional pada taraf nasional dan internasional. Untuk menjelaskan hal itu dia memakai ide ”dampak balik dan dampak sebar”. Dia mendefinisikan dampak balik  sebagai semua perubahan yang bersifat merugikan. Sedangkan dampak sebar menunjuk pada dampak memontum pembangunan yang menyebar secara sentrifugal dari pusat pengembangan ekonomi ke wilayah-wilayah lainnya.
18.  Teori pembangunan ekonomi Fei-Ranis
Teori John Fei dan Gustav Ranis
      Teori tersebut berkenaan dengan suatu Negara terbelakang yang kelebihan buruh disertai perekonomian yang miskin sumberdaya, dimana sebagian besar penduduk bergerak di bidang pertanian di tengah pengangguran hebat dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Ekonomi pertaniannya mandeg. Kebanyakan orang bergerak dilapangan pertanian tradisional, bidang-bidang nonpertanian memang ada, tetapi begitu banyak mempergunakan modal.
      Berdasarkan beberapa asumsi, maka Fei dan Ranis menelaah pembangunan ekonomi surplus-buruh menjadi tiga tahap, yaitu (1) tahap pertama, para penganggur tersamar, yang tidak menambah output pertanian, di alihkan ke sektor industri dengan upah institusional yang sama. (2) tahap kedua, pekerjaan pertanian menambah keluaran pertanian tapi memproduksi lebih kecil daripada upah institusional yang mereka peroleh. (3) tahap ketiga yang menandai akhir tahap landas dan awal pertumbuhan swasembada pada saat buruh pertanian menghasilkan lebih besar daripada perolehan upah institusional.
- See more at: http://h34lthy.blogspot.com/2012/10/tokoh-dan-teori-pembangunan-ekonomi_7465.html#sthash.mdNNOMcr.dpuf
Teori Myrdal
      Prof. Gunnar Myrdal berpendapat bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab-menyebab sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan semakin banyak, dan mereka yang tertinggal dibelakang menjadi semakin terhambat. Dampak balik (backwash effect) cenderung membesar dan dampak sebar (spread effect) cenderung mengecil. Secara komulatif kecendrungan ini semakin memperburuk ketimpangan internasional dan menyebabkan ketimpangan regional di Negara-negara terbelakang.


Tesis Myrdal
      Prof. Myrdal membangun teori keterbelakangan dan pembangunan ekonominya disekitar ide ketimpangan regional pada taraf nasional dan internasional. Untuk menjelaskan hal itu dia memakai ide ”dampak balik dan dampak sebar”. Dia mendefinisikan dampak balik  sebagai semua perubahan yang bersifat merugikan. Sedangkan dampak sebar menunjuk pada dampak memontum pembangunan yang menyebar secara sentrifugal dari pusat pengembangan ekonomi ke wilayah-wilayah lainnya.
18.  Teori pembangunan ekonomi Fei-Ranis
Teori John Fei dan Gustav Ranis
      Teori tersebut berkenaan dengan suatu Negara terbelakang yang kelebihan buruh disertai perekonomian yang miskin sumberdaya, dimana sebagian besar penduduk bergerak di bidang pertanian di tengah pengangguran hebat dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Ekonomi pertaniannya mandeg. Kebanyakan orang bergerak dilapangan pertanian tradisional, bidang-bidang nonpertanian memang ada, tetapi begitu banyak mempergunakan modal.
      Berdasarkan beberapa asumsi, maka Fei dan Ranis menelaah pembangunan ekonomi surplus-buruh menjadi tiga tahap, yaitu (1) tahap pertama, para penganggur tersamar, yang tidak menambah output pertanian, di alihkan ke sektor industri dengan upah institusional yang sama. (2) tahap kedua, pekerjaan pertanian menambah keluaran pertanian tapi memproduksi lebih kecil daripada upah institusional yang mereka peroleh. (3) tahap ketiga yang menandai akhir tahap landas dan awal pertumbuhan swasembada pada saat buruh pertanian menghasilkan lebih besar daripada perolehan upah institusional.
- See more at: http://h34lthy.blogspot.com/2012/10/tokoh-dan-teori-pembangunan-ekonomi_7465.html#sthash.mdNNOMcr.dpuf

VIII. Teori Leibestein

      Leibenstein mengatakan bahwa dalam tahap transisi dari keadaan keterbelakangan ke keadaan yang lebih maju di mana kita dapat mengharapkan pertumbuhan jangka panjang yang mantap di perlukan suatu kondisi bahwa suatu perekonomian harus mendapatkan rangsangan pertumbuhan yang lebih besar dari batas minimum kritis tertentu.

      Menurut Leibenstein, setiap ekonomi akan tunduk pada hambatan dan rangsangan yang terjadi. Adanya hambatan akan menurunkan pendapatan per kapita dari tingkat sebelumnya sedangkan rangsangan cenderung akan meningkatkan pendapatan per kapita. Suatu Negara akan tetap berada pada keterbelakangan jika besarnya rangsangan lebih kecil daripada besar hambatan yang di hadapi. Hanya jika pada factor-faktor tertentu di nilai dapat meningkatkan pendapatan di berikan rangsangan yang lebih besar di bandingkan dengan hambatan yang mereka hadapi maka usaha minimum itu dapat tercapai sehingga perekonomian akan mencapai kemajuan.

a. Pertumbuhan Penduduk Merupakan Fungsi dari Pendapatan Per Kapita
       Tesis Leibenstein di dasarkan pada kenyataan bahwa laju pertumbuhan penduduk merupakan fungsi dari laju pendapatan per kapita. Laju pertumbuhan penduduk berkaitan erat dengan berbagai tahap pembangunan ekonomi. Jika pendapatan per kapita naik diatas posisi keseimbangan maka tingkat kematian akan menurun tanpa dibarengi penurunan tingkat kesuburan. Akibatnya, laju pertumbuhan penduduk meningkat. Jadi, kenaikan tingkat pendapatan per kapita cenderung menaikan laju pertumbuhan penduduk. Namun kecenderungan  ini hanya sampai pada titik tertentu, setelah melapaui titik tersebut, kenaikan pendapatan per kapita akan menurukan tingkat kesuburan dan ketika pembangunan sudah sampai pada tahap maju maka laju pertumbuhan penduduk akan menurun.

b. Faktor-faktor Lain Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Pendapatan per Kapita
      Selain pertumbuhan penduduk ada faktor lain yang memerlukan penerapan upaya minimum kritis yaitu :
  1. Skala disekonomis internal Yang timbul akibat tidak dapat dibaginya faktor produksi.
  2. Skala disekonomis eksternal Yang timbul akibat adanya ketergantungan eksternal, hambatan budaya dan kelembagaan yang ada di Negara Sedang Berkembang.
Untuk mengatasi kedua hal tersebut diperlukan upaya minimum kritis yang cukup besar. Namun upaya ini tidak dapat dilakukan pada tingkat pendapatan subsisten, karna pengeluaran pada tingkat pendapatan subsisten hanyalah sekedar untuk bertahan hidup dan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Jadi upaya minimum kritis itu harus lebih besar diatas tingkat pendapatan subsisten agar roda pembangunan ekonomi yang berkesinambungan dapat bergerak.

c. Agen Pertumbuhan
      Upaya minimum kritis dapat di lakukan jika ada dukungan dari kondisi ekonomi yang relavan terhadap kegiatan usaha, sehingga laju kekuatan pendorong berkembang lebih cepat daripada kekuatan penghambat pendapatan. Oleh karena itu di ciptakan pengembangan agen-agen pertumbuhan, agen-agen pertumbuhan tersebut merupakan anggota masyarakat yang melakukan kegiatan-kegiatan yang membantu pertumbuhan. Agen-agen tersebut adalah para pengusaha, investor, penabung, dan innovator. Kegiatan-kegiatan produktif tersebut di nilai mampu menghasilkan kewiraswastaan, peningkatan sumber daya pengetahuan, pengembangan keterampilan produktif masyarakat, serta peningkatan laju tabungan dan investasi.

d. Rangsangan Pertumbuhan
      Menurut Leibenstein, berhasil tidaknya agen pertumbuhan tergantung pada hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut. Leibenstein membedakan rangsangan pertumbuhan ke dalam dua jenis:
  1. Rangsangan zero-sum yang tidak meningkatkan pendapatan nasional tetapi hanya upaya distributive.
  2. Rangsangan positif-sum yang berarti terdapat upaya pengembangan pendapatan nasional.
Positif-sum dinilai mampu menghasilkan pembangunan ekonomi. Namun kondisi yang ada di NSB sering kali hanya mendorong pengusaha terlibat dalam kegiatan zero-sum. Kegiatan tersebut mencakup:
  1. Kegiatan bukan dagang untuk menjamin posisi monopolistic yang lebih besar, kekuatan politik, dan prestise sosial.
  2. Kegiatan dagang yang membawa ke posisi monopolistic yang lebih besar yang tidak menambah sumber-sumber agregat.
  3. Kegiatan spekulatif yang tidak memanfaatkan tabungan, dan tidak memanfaatkan sumber kewirausahaan yang langka.
  4. Kegiatan yang menggunakan tabungan neto, tetapi investasinya hanya mencakup bidang-bidang usaha yang nilai sosial nya nol atau lebih rendah daripada nilai privatnya.
      Jadi, kegiatan zero-sum bukanlah kegiatan yang secara rill meciptakan pendapatan tetapi hanya sekedar pemindahan likuiditas dari satu orang ke orang lain. Oleh karena itu, upaya minimum kritis itu harus cukup besar agar tercipta iklim yang relevan bagi berlangsungnya rangsangan positive-sum.
Di dalam perekonomian terbelakang ada pengaruh tertentu yang bersifat anti perubahan, yang cenderung akan menekan pendapatan per kapita. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain :
  1. Kegiata zero-sum untuk mempertahankan hak-hak istimewa ekonomi yang ada melalui pembatasan peluang-peluang ekonomi yang memiliki potensi untuk berkembang
  2. Tindakan konservatif para buruh yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir untuk menentang perubahan.
  3. Adanya berbagai macam upaya yang menentang gagasan dan pengetahuan baru karena gagasan lama sudah tertanam dihati mereka.
  4. Adanya kenaikan pengeluaran konsumsi atas barang-barang mewah yang dinilai kurang produktif apabila dibandngkan dengan pengeluaran untuk kegiatan akumulasi modal.
  5. Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja mempunyai pengaruh pada berkurangnya modal yang tersedia per tenaga kerja.
      Untuk mengatasi semua kendala yang mengakibatkan suatu perekonomian berada dalam keadaan keterbelakangan, maka diperlukan upaya minimum kritis yang cukup besar untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi sehingga dapat memacu positif-sum dan menciptakan kekuatan untuk menandingi zero-sum. Sebagai hasil dari upaya minimum kritis itu, pendapata perkapita akan mengalami kenaikan sehingga tingkat tabungan dan investai akan terstimulasi. Perubahan-perubahan tersebut berdampak :
  1. Ekspansi agen pertumbuhan.
  2. Meningkatnya sumbangan mereka pada per unit modal.
  3. Semakin berkurangnya kekuatan dari faktor-faktor penghambat pertumbuhan.
  4. Penciptaan sebuah kondisi yang mampu meningkatkan mobilitas ekonomi dan sosial.
  5. Peningkatan spesialisasi, serta berkembangnya sector suknder dan tersier.
  6. Terciptanya iklim yang cocok bagi adanya perubahan, yang pada akhir nya perubahan tersebut dinilai bisa mengurangi laju pertumbuhan penduduk.

VII. Teori Rostow

      Menurut Rostow proses pembangunan ekonomi bisa dibedakan kedalam lima tahap. Lima tahap tersebut adalah karakteristik perubahan keadaan ekonomi, social dan politik yang terjadi. Proses pembangunan ekonomi menurut W.W Rostow bisa dibedakan dalam 5 tahap, yaitu :
           1. Masyarakat tradisional
         Sistem ekonomi yang mendominasi masyarakat tradisional adalah pertanian, dengan cara-cara bertani yang tradisional. Produktivitas kerja manusia lebih rendah bila dibandingkan dengan tahapan pertumbuhan berikutnya. Masyarakat ini dicirikan oleh struktur hirarkis sehingga mobilitas sosial dan vertikal rendah. 
Ciri-ciri tahap masyarakat tradisional adalah sebagai berikut:
1.  Fungsi Produksi terbatas, cara produksi masih primitif, dan tingkat produktivitas masyarakat rendah.
2.  Struktur sosial bersifat hierarki, yaitu kedudukan masyarakat tidak berbeda dengan nenek moyang mereka.
3.   Kegiatan politik dan pemerintahan di daerah-daerah berada di tangan tuan tanah.
           2. Pra-kondisi tinggal landas
Pembangunan ekonomi menurut Rostow sadalah suatu proses yang menyebabkan perubahan karekteristik penting suatu masyarakat, misalnya perubahan keadaan sistem politik, struktur social, system nilai dalam masyarakat dan struktur ekonominya. Jika perubahan seperti itu terjadi, maka pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan sudah terjadi. Suatu masyarakat yang sudah mencapai proses pertumbuhan yang demikian sifatnya, dimana pertumbuhan ekonomi sudah sering terjadi, boleh dianggap sudah berada pada tahap prasyarat tinggal landas.
Tahap prasyarat tinggal landas ini didefinisikan Rostow sebagai suatu masa transisi dimana masyarakat mempersiapkan dirinya untuk mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri (self-sustainable growth). Menurut Rostow, pada tahap ini dan sesudhnya pertumbuhan ekonomi akan terjadi secara otomatis.
Tahap prasyarat tinggal landas ini mempunyai 2 corak. Pertama adalah tahap prasyarat lepas landas yang dialami oleh Negara Eropa, Asia, Timur tengah, dan Afrika, dimana tahap ini dicapai dengan perombakann masyarakat tradisional yang sudah lama ada. Corak yang kedua adalah tahap prasyarat tinggal landas yang dicapai oleh Negara-negara Born free (menurut Rostow) seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dimana Negara-negara tersebut mencapai tahap tinggal landas tanpa harus merombak system masyarakat yang tradisional.  Hal ini disebabkan oleh sifat dari masyarakat Negara-negara tersebut terdiri dari imigran yang telah mempunyai sifit-sifat yang dibutuhkan oleh suatu masyarakat untuk tahap prasyarat tinggal landas.
             3. Tinggal landas (Lepas Landas) 
        Tahapan ini dicirikan dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis. Karakteristik utama dari pertumbuhan ekonomi ini adalah pertumbuhan dari dalam yang berkelanjutan yang tidak membutuhkan dorongan dari luar. Seperti, industri tekstil di Inggris, beberapa industri dapat mendukung pembangunan. Secara umum “tinggal landas” terjadi dalam dua atau tiga dekade terakhir. Misalnya, di Inggris telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-17 atau di Jerman pada akhir abad ke-17. Untuk mengetahui apakah sesuatu negara sudah mencapai tahap tinggal landas atau belum, Rostow mengemukakan tiga ciri dari masa tinggal landas yaitu:
1.  Berlakunya kenaikan dalam penanaman modal yang produktif dari 5 persen atau kurang menjadi 10 persen dari Produk Nasional Netto atau NNP.
2.  Berlakunya perkembangan satu atau beberapa sektor industri dengan tingkat laju perkembangan yang tinggi.
3.  Adanya atau segera terciptanya suatu rangka dasar politik, sosial, dan kelembagaan yang bisa menciptakan perkembangan sektor modern dan eksternalitas ekonomi yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi terus terjadi.
           4. Menuju Kedewasaan
Kedewasaan pembangunan ditandai oleh investasi yang terus-menerus antara 40 hingga 60 persen. Dalam tahap ini mulai bermunculan industri dengan teknologi baru, misalnya industri kimia atau industri listrik. Ini merupakan konsekuensi dari kemakmuran ekonomi dan sosial. Pada umumnya, tahapan ini dimulai sekitar 60 tahun setelah tinggal landas. Di Eropa, tahapan ini berlangsung sejak tahun 1900.
Kedewasaan dimulai ketika perkembangan industry terjadi tidak saja meliputi teknik-tiknik produksi, tetapi juga dalam aneka barang yang diproduksi. Yang diproduksikan bukan saja terbatas pada barang konsumsi, tetapi juga barang modal.
Misalnya saja ekspor dan impor batik di Indonesia, batik di indonsia mempunyai potensi dan kualitas yang bagus jika dibandingkan dengan impor batik yang ada di Indonesia, kebanyakan dari Negara Malaysia dan Negara Srilanka, jadi ekspor batik Indonesia lebih berkualitas dari impor batik yang ada di Indonesia. 
5. Era konsumsi tinggi 
     Pada tahap ini, sebagian besar masyarakat hidup makmur. Orang-orang yang hidup di masyarakat itu mendapat kemakmuran dan keseberagaman sekaligus. Menurut Rostow, saat ini masyarakat yang sedang berada dalam tahapan ini adalah masyarakat Barat atau Utara. 
           Pada tahap ini perhatian masyarakat sudah lebih menekankan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat bukan lagi kepada masalah produksi.
Terdapat 3 macam tujuan masyarakat atau negara yaitu:
1. Memperbesar kekuasaan dan pengaruh ke luar negeri dan kecenderungan ini bisa berakhir pada penjajahan terhadap bangsa lain.
2.  Menciptakan negara kesejahteraan dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem pajak yang progresif
3.  Meningkatkan konsumsi masyarakat melebihi kebutuhan pokok yang meliputi pula barang yang tahan lama dan barang mewah.
 

 

VI. Konsep Pertumbuhan Tidak Berimbang

      Konsep pertumbuhan tidak berimbang ini dipopulerkan oleh Hirschman yang berpendapat bahwa dengan sengaja tidak menyeimbangkan perekonomian, sesuai dengan strategi yang dirancang sebelumnya, adalah cara yang terbaik untuk mencapai pertumbuhan pada suatu negara sedang berkembang. 
      Menurut Hirschman, investasi pada industri atau sektor-sektor perekonomian yang strategis akan menghasilkan kesempatan investasi baru dan membuka jalan bagi pembangunan ekonomi lebih lanjut. Hirschman menyatakan bahwa pembangunan harus berlangsung dengan cara pertumbuhan yang menjalar dari sektor utama ekonomi ke sektor pendukungnya. Dia menganggap pembangunan sebagai suatu “rantai disekuilibrium” yang harus dipertahankan daripada dihapuskan, keuntungan dan kerugian merupakan sympton perekonomian yang kompetitif. Jika perekonomian diinginkan tetap berlanjut maka tugas kebijaksanaan pembangunan adalah memelihara tegangan, disproporsi dan disekuilibrium tersebut.

      Hirschman menyebutkan bahwa kebijaksanaan pembangunan ekonomi harus bertujuan sebagai berikut (Jhingan, 2000:192):
Mencegah rangkaian investasi convergent yang mengambil ekonomi eksternal lebih banyak daripada yang diciptakannya.
(2) Mendorong rangkaian industri divergent yang menciptakan ekonomi eksternal lebih besar daripada yang diambilnya.
Pembangunan hanya dapat berlangsung dengan cara menimpangkan perekonomian. Cara ini ditempuh dengan cara menanamkan modal dibidang overhead sosial atau kegiatan produktif langsung. Memang akan terjadi diekuilibrium, namun pada akhirnya akan terjadi penyesuaian-penyesuaian secara terus-menerus dan itu semua merupakan suatu “rantai disekuilibrium”seperti yang dikemukakan oleh Hirschman. Yang terdahulu menciptakan ekonomi eksternal sementara yang belakangan menyerap ekonomi eksternal.

v. Teori Dualistik

Teori Dualistik masyarakat dari J.H. Boeke:
      Teorinya tentang "dualisme masyarakat" merupakan teori umum pembangunan masyarakat dan pembangunan ekonomi negara terbelakang yang terutama didasarkan pada hasil kajiannya terhadap perekonomian Indonesia. Tiga ciri manusia antara lain: semangat sosial, bentuk organisasi, dan teknik yang mendominasinya. Dua sistem sosial yang sangat berbeda, namun berdampingan. Sistem sosial yang satu tidak dapat menguasai yang lainnya, secara sepenuhnya.
• Kritik atas teori Boeke: 
  1. keinginan tidak terbatas, 
  2. buruh lepas bukan tidak terorganisasi,
  3. mobilitas penduduk,
  4. dualisme bukan khas ekonomi terbelakang,
  5. dapat diterapkan pada masyarakat Barat,
  6. bukan suatu teori tetapi deskripsi,
  7. peralatan teori ekonomi Barat dipakai di masyarakat Timur,
  8. tidak memberikan pemecahan terhadaap masalah pengangguran.

Teori Dualistik teknologi dari Benyamin Higgins:
      Dualisme teknologi berarti penggunaan berbagai fungsi produksi pada sektor maju dan sektor tradisional dalam perekonomian terbelakang. Higgins membangun teorinya di sekitar dua barang, dua faktor produksi dan dua sektor dengan kekayaan faktor dan fungsi produksinya. Sektor industri vs non industri, perbedaan produktivitas disebabkan oleh: 
  1.  modal, 
  2. penggunaan penggetahuan,
  3. organisasi.
• Kritik atas teori Higgins: 
  1. koefisien tidak tetap di sektor industri, 
  2. harga faktor tidak tergantung pada kekayaan faktor,
  3. mengabaikan faktor kelembagaan,
  4. mengabaikan penggunaan teknik penyerap buruh,
  5. besarnya dan sifat pengangguran tersembunyi tidak jelas.

Teori Dualistik finansial dari Mynt:
  1. Pasar uang terorganisir vs non terorganisir 
  2. Sektor industri dan pertanian
  3. Bunga tinggi, rentenir, tuan tanah, sistem ijon, pedagang perantara, dsb.
Dualisme Regional:
  1.  Ketidakseimbangan tingkat pembangunan antara region atau daerah karena penggunaan modal. 
  2. Ketidakseimbangan antar kota. 
  3. Ketidakseimbangan antara pusat dan daerah.

IV. Joseph Schumpeter

Menurut Joseph Schumpeter pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada inovasi dari para pengusaha (wiraswasta). Dalam hal ini, inovasi merupakan penerapan pengetahuan dan teknologi yang baru di dunia usaha. Inovasi memiliki pengaruh sebagai berikut:
1      Diperkenalkannya teknologi baru.
2      Menimbulkan keuntungan yang lebih tinggi.
3      Menimbulkan imitasi inovasi, yaitu peniruan teknologi baru oleh pengusaha-pengusaha lain yang dapat meningkatkan hasil produksi.
Pada dasarnya pelaku ekonomi dipandangnya sebagai makhluk yang terus melakukan inovasi-inovasi dalam memajukan siklus perekonomian itu sendiri. Namun inovasi itu sendiri sangatlah sarat dengan sifat  instabilitas.
Dalam memahami pemikiran Schumpeter, maka satu poin penting yang harus dipahami adalah konsep creative destruction. Creative destruction pada dasarnya merujuk kepada usaha dalam memecahkan berbagai halangan guna mencapai inovasi dan kemajuan, di mana kemajuan ini kemudian dirujukkan oleh Schumpeter ke dalam pengembangan teknologi itu sendiri. Apabila menuangkan diagram pemikiran Schumpeter, maka baginya siklus ekonomi adalah siklus yang selalu berputar karena dorongan pembangunan dan tidak pernah sampai pada satu titik keseimbangan tertentu. Ekonomi akan bergerak melalui tahap resesi dan booming. Jika inovasi belum membuahkan hasil, ekonomi akan mengalami resesi, sebaliknya jika inovasi sudah berjalan dengan baik, akibat didorong oleh injeksi kapital dari sistem perbankan, ekonomi akan bergerak ke arah optimis. Begitu seterusnya, sehingga sistem ekonomi kapitalis pada dasarnya akan bergerak dari resesi (burst) ke optmisis (boom).
Diagram pemikiran Schumpeter itu kemudian menunjukkan bagaimana uang dan perbankan memiliki peran yang sangat sentral dalam perekonomian. Namun Schumpeter tetap menekankan peran perbankan sebagai faktor pendukung dari kegiatan ekonomi utama yaitu yang bergerak di sektor riil. Schumpeter berusaha mengembangkan ide bagaimana inovasi tidak seharusnya berkembang pada sektor finansial, hal ini disebabkan inovasi serta pembangunan pada sektor finansial hanya mengandalkan spekulasi-spekulasi yang dapat menjatuhkan serta menghancurkan perekonomian itu sendiri. Apabila sektor finansial mengalami kehancuran, maka dampaknya akan terasa secara langsung oleh sektor riil karena inovasi-inovasi yang membutuhkan suntikan dana dari perbankan akan terhambat, sehingga perekonomian pun akan merasakan dampaknya.
Kemajuan teknologi (technological progress) bagi kebanyakan ekonom merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang paling penting. Dalam pengertiannya yang paling sederhana, kemajuan teknologi terjadi karena ditemukannya cara baru atau perbaikan atas cara-cara lama dalam menangani pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti kegiatan menanam jagung, membuat pakaian, atau membangun rumah. Kita mengenal tiga klasifikasi kemajuan teknologi, yaitu: kemajuan teknologi yang bersifat netral (neutral technological progress), kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor-saving technological progress), dan kemajuan teknologi yang hemat modal (capital-saving technological progress).
      Kemajuan teknologi yang netral (neutral technolohical progress) terjadi apabila teknologi tersebut memungkinkan kita mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi dengan menggunakan jumlah dan kombinasi faktor input yang sama. Inovasi yang sederhana, seperti pembagian tenaga kerja (semacam spesialisasi) yang dapat mendorong peningkatan output dan kenaikan konsumsi masyarakat adalah contohnya. Sementara itu, kemajuan teknologi dapat berlangsung sedemikian rupa sehingga menghemat pemakaian modal atau tenaga kerja (artinya, penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memperoleh output yang lebih tinggi dari jumlah input tenaga kerja atau modal yang sama). Penggunaan komputer, mesin tekstil otomatis, bor listrik berkecepatan tinggi, traktor dan mesin pembajak tanah, dan banyak lagi jenis mesin serta peralatan modern lainnya, dapat diklasifikasikan sebagai kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor-saving technological progress). Sedangkan kemajuan teknologi hemat modal (capital-saving technological progress) merupakan fenomena yang langka.
            Hal ini dikarenakan hampir semua penelitian dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan  di Negara-negara maju dengan tujuan utama menghemat pekerja, dan bukan menghemat modal. Di Negara-negara dunia ketiga yang berlimpah tenaga kerja tetapi langka modal, kemajuan teknologi hemat modal merupakan sesuatu yang paling diperlukan. Kemajuan teknologi juga dapat meningkatkan modal atau tenaga kerja. Kemajaun teknologi yang meningkatkan pekerja (labor-augmenting technological progress) terjadi apabila penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan mutu atau ketrampilan angkatan kerja secara umum. Misalnya, dengan menggunakan video, tape, televise, dan media komunikasi elektronik lainnya di dalam kelas, proses belajar bias lebih lancar sehingga tingkat penyerapan bahan pelajaran juga menjadi lebih baik. Demikian pula halnya dengan kemajuan teknologi yang meningkatkan modal (capital-augmenting technological progress). jenis kemajuan ini terjadi jika penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memanfaatkan barang modal yang ada secara lebih produktif. Misalnya, penggunaan bajak kayu dengan bajak baja dalam produksi pertanian.

III. Teori Keynes

        Teori Keynes tidak menganalisa masalah-masalah negara terbelakang, tetapi berkaitan dengan negara kapitalis maju.
• Bukunya yang terkenal The General Theory of Employment, Interest and Money.
• Pendapatan total merupakan fungsi dari pekerjaan total dalam suatu negara.
• D Y = K D I, K = multiplier, hubungan antara kenaikan investasi dan pendapatan, yaitu kenaikan tertentu pada investasi menyebabkan kenaikan yang berlipat pada pendapatan melalui kecenderungan berkonsumsi.
• Syarat pokok kemajuan ekonomi:
1 kemampuan mengendalikan penduduk,
2 kebulatan tekad menghindari perang dan perselisihan sipil, 
3 kemauan untuk mempercayai ilmu pengetahuan, mempedomani hal-hal yang benar- benar sesuai dengan 
   ilmu pengetahuan, 
4 tingkat akumulasi yang ditentukan oleh margin antara produksi dan konsumsi.

II. Teori Ricardian, David Ricardo

      Tema dari proses pertumbuhan ekonomi masih pada perpacuan antara laju pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan output. Selain itu Ricardo juga menganggap bahwa jumlah faktor produksi tanah (sumberdaya alam) tidak bisa bertambah, sehingga akhirnya menjadi faktor pembatas dalam proses pertumbuhan suatu masyarakat.
      Teori Ricardo ini diungkapkan pertama kali dalam bukunya yang berjudul The Principles of Political Economy and Taxation yang diterbitkan pada tahun 1917.

Proses Pertumbuhan
Sebelum membicarakan aspek-aspek pertumbuhan dari Ricardo, terlebih dulu kita coba untuk mengenai ciri-ciri perekonomian Ricardo sebagai berikut:
  • Jumlah tanah terbatas.
  • Tenaga kerja (penduduk) meningkat atau menurun tergantung pada apakah tingkat upah di atas atau di bawah tingkat upah minimal (tingkat upah alamiah = natural wage).
  • Akumulasi modal terjadi bila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik modal berada di atas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.
  • Kemajuan teknologi terjadi sepanjang waktu.
  • Sektor pertanian dominan.
       Dengan terbatasnya luas tanah, maka pertumbuhan.penduduk (tenaga kerja) akan menurunkan produk marginal (marginal product) yang kita kenal dengan istilah the law of diminishing returns. Selama buruh yang dipekerjakan pada tanah tersebut bisa menerima tingkat upah di atas tingkat upah alamiah, maka penduduk (tenaga kerja) akan terus bertambah, dan hal ini akan menurunkan lagi produk marginal tenaga kerja dan pada gilirannya akan menekankan tingkat upah ke bawah.
      Proses yang dijelaskan di atas akan berhenti jika tingkat upah turun sampai tingkat upah alamiah. Jika tingkat upah turun sampai di bawah tingkat upah alamiah, maka jumlah penduduk (tenaga kerja) menurun. Dan tingkat upah akan naik lagi sampai tingkat upah alamiah. Pada posisi ini jumlah penduduk konstan. Jadi dari segi faktor produksi tanah dan tenaga kerja, ada suatu kekuatan dinamis yang selalu menarik perekonomian ke arah tingkat upah minimum, yaitu bekerjanya the law of diminishing returns.
      Menurut Ricardo, peranan akumulasi modal dan kemajuan teknologi adalah cenderung meningkatkan produktivitas tenaga kerja, artinya, bisa memperlambat bekerjanya the law of diminishing returns yang pada gilirannya akan memperlambat pula penurunan tingkat hidup ke arah tingkat hidup minimal. Inilah inti dari proses pertumbuhan ekonomi (kapitalis) menurut Ricardo. Proses ini tidak lain adalah proses tarik menarik antara dua kekuatan dinamis yaitu antara:
  • the law of diminishing returns dan
  • kemajuan teknologi.
       Proses tarik-menarik tersebut akhirnya dimenangkan oleh the law of diminishing returns, demikian Ricardo. Keterbatasan faktor produksi tanah (sumbersdaya alam) akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu negara hanya bisa tumbuh dampai batas yang dimungkinkan oleh sumberdaya alamnya.
Apabila semua potensi sumberdaya alam telah dieksploitir secara penuh maka perekonomian berhenti tumbuh. Masyarakat mencapai posisi stasionernya, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  • tingkat output konstan
  • jumlah penduduk konstan
  • pendapatan per kapita juga menjadi konstan
  • tingkat upah pada tingkat upah alamiah (minimal)
  • tingkat keuntungan pada tingkat yang minimal
  • akumulasi modal berhenti (stok modal konstan)
  • tingkat sewa tanah yang maksimal.

I. Teori Adam Smith

       Adam Smith (1723-1790) bapak dari ilmu eknomi modern yang terkenal dengan teori nilainya yaitu teori yang menyelidiki faktor-faktor yang menentukan nilai atau harga suatu barang. Bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776) yang terkenal dengan buku Wealth of Nations yang tema pokoknya mengenai bagaimana perekonomian itu tumbuh. Meyakini doktrin hukum alam dalam persoalan ekonomi, orang dibiarkan mengembangkan kepentingan pribadinya, setiap individu akan dibimbing oleh suatu "kekuatan yang tidak terlihat" atau invisible hand, yaitu pasar persaingan sempurna. Jadi, jika semua orang dibiarkan bebas akan memaksimalkan kesejahteraan mereka secara agregat.
       Adam Smith melihat proses pertumbuhan ekonomi itu dari dua segi yaitu pertumbuhan output (GNP) total, dan pertumbuhan penduduk. 

A. Pertumbuhan Output Total
      Unsur pokok dari sistem produksi suatu negara menurut Smith ada tiga yaitu:
  1. sumberdaya alam yang tersedia (atau faktor produksi “tanah”),
  2. sumberdaya insani (atau jumlah penduduk),
  3. stok barang modal yang ada.
      Menurut Smith, sumberdaya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Jumlah sumberdaya alam yang tersedia merupakan “batas maksimum” bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Maksudnya, jika sumberdaya ini belum digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok modal yang ada yang memegang peranan dalam pertumbuhan output. Tetapi pertumbuhan output tersebut akan berhenti jika semua sumberdaya alam tersebut telah digunakan secara penuh.
      Sumberdaya insani jumlah penduduk) mempunyai peranan yang pasif dalam proses pertumbuhan output. Maksudnya, jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan akan tenaga kerja dari suatu masyarakat.
      Stok modal, menurut Smith, merupakan unsur produksi yang secara aktif menentukan tingkat output. Peranannya sangat sentral dalam proses pertumbuhan output. Jumlah dan tingkat pertumbuhan output tergantung pada laju pertumbuhan stok modal (sampai “batas maksimum” dari sumber alam).

B. Pertumbuhan Penduduk
      Menurut Adam Smith, jumlah penduduk akan meningkatjika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsisten yaitu tingkat upah yang pas-pasan untuk hidup. Jika tingkat upah di atas tingkat subsisten, maka orang-orang akan kawin pada umur muda, tingkat kematian menurun, dan jumlah kelahiran meningkat. Sebaliknya jika tingkat upah yang berlaku lebih rendah dari tingkat upah subsisten, maka jumlah penduduk akan menurun.
    Tingkat upah yang berlaku, menurut Adam Smith, ditentukan oleh tarik-menarik antara kekuatan permintaan dan penawaran tenaga kerja. Tingkat upah yang tinggi dan meningkat jika permintaan akan tenaga kerja (D) tumbuh lebih cepat daripada penawaran tenaga kerja (S).
       Sementara itu permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh stok modal dan tingkat output masyarakat. Oleh karena itu, laju pertumbuhan permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh laju pertumbuhan stok modal (akumulasi modal) dan laju pertumbuhan output.

Teori-Teori Pembangunan

Teori-Teori Pembangunan terdiri dari :
 
  1. Teori Adam Smith
  2. Teori Ricardian
  3. Teori Keynes
  4. Teori Schumpeter
  5. Teori Dualistik
  6. Konsep Pertumbuhan Tidak Berimbang
  7. Teori Rostow
  8. Teori leibestein
  9. Teori Myrdal
  10. Teori pembangunan Ekonomi Fei-Ranis
  11. Teori Ketergantungan