VIII. Teori Leibestein

      Leibenstein mengatakan bahwa dalam tahap transisi dari keadaan keterbelakangan ke keadaan yang lebih maju di mana kita dapat mengharapkan pertumbuhan jangka panjang yang mantap di perlukan suatu kondisi bahwa suatu perekonomian harus mendapatkan rangsangan pertumbuhan yang lebih besar dari batas minimum kritis tertentu.

      Menurut Leibenstein, setiap ekonomi akan tunduk pada hambatan dan rangsangan yang terjadi. Adanya hambatan akan menurunkan pendapatan per kapita dari tingkat sebelumnya sedangkan rangsangan cenderung akan meningkatkan pendapatan per kapita. Suatu Negara akan tetap berada pada keterbelakangan jika besarnya rangsangan lebih kecil daripada besar hambatan yang di hadapi. Hanya jika pada factor-faktor tertentu di nilai dapat meningkatkan pendapatan di berikan rangsangan yang lebih besar di bandingkan dengan hambatan yang mereka hadapi maka usaha minimum itu dapat tercapai sehingga perekonomian akan mencapai kemajuan.

a. Pertumbuhan Penduduk Merupakan Fungsi dari Pendapatan Per Kapita
       Tesis Leibenstein di dasarkan pada kenyataan bahwa laju pertumbuhan penduduk merupakan fungsi dari laju pendapatan per kapita. Laju pertumbuhan penduduk berkaitan erat dengan berbagai tahap pembangunan ekonomi. Jika pendapatan per kapita naik diatas posisi keseimbangan maka tingkat kematian akan menurun tanpa dibarengi penurunan tingkat kesuburan. Akibatnya, laju pertumbuhan penduduk meningkat. Jadi, kenaikan tingkat pendapatan per kapita cenderung menaikan laju pertumbuhan penduduk. Namun kecenderungan  ini hanya sampai pada titik tertentu, setelah melapaui titik tersebut, kenaikan pendapatan per kapita akan menurukan tingkat kesuburan dan ketika pembangunan sudah sampai pada tahap maju maka laju pertumbuhan penduduk akan menurun.

b. Faktor-faktor Lain Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Pendapatan per Kapita
      Selain pertumbuhan penduduk ada faktor lain yang memerlukan penerapan upaya minimum kritis yaitu :
  1. Skala disekonomis internal Yang timbul akibat tidak dapat dibaginya faktor produksi.
  2. Skala disekonomis eksternal Yang timbul akibat adanya ketergantungan eksternal, hambatan budaya dan kelembagaan yang ada di Negara Sedang Berkembang.
Untuk mengatasi kedua hal tersebut diperlukan upaya minimum kritis yang cukup besar. Namun upaya ini tidak dapat dilakukan pada tingkat pendapatan subsisten, karna pengeluaran pada tingkat pendapatan subsisten hanyalah sekedar untuk bertahan hidup dan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Jadi upaya minimum kritis itu harus lebih besar diatas tingkat pendapatan subsisten agar roda pembangunan ekonomi yang berkesinambungan dapat bergerak.

c. Agen Pertumbuhan
      Upaya minimum kritis dapat di lakukan jika ada dukungan dari kondisi ekonomi yang relavan terhadap kegiatan usaha, sehingga laju kekuatan pendorong berkembang lebih cepat daripada kekuatan penghambat pendapatan. Oleh karena itu di ciptakan pengembangan agen-agen pertumbuhan, agen-agen pertumbuhan tersebut merupakan anggota masyarakat yang melakukan kegiatan-kegiatan yang membantu pertumbuhan. Agen-agen tersebut adalah para pengusaha, investor, penabung, dan innovator. Kegiatan-kegiatan produktif tersebut di nilai mampu menghasilkan kewiraswastaan, peningkatan sumber daya pengetahuan, pengembangan keterampilan produktif masyarakat, serta peningkatan laju tabungan dan investasi.

d. Rangsangan Pertumbuhan
      Menurut Leibenstein, berhasil tidaknya agen pertumbuhan tergantung pada hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut. Leibenstein membedakan rangsangan pertumbuhan ke dalam dua jenis:
  1. Rangsangan zero-sum yang tidak meningkatkan pendapatan nasional tetapi hanya upaya distributive.
  2. Rangsangan positif-sum yang berarti terdapat upaya pengembangan pendapatan nasional.
Positif-sum dinilai mampu menghasilkan pembangunan ekonomi. Namun kondisi yang ada di NSB sering kali hanya mendorong pengusaha terlibat dalam kegiatan zero-sum. Kegiatan tersebut mencakup:
  1. Kegiatan bukan dagang untuk menjamin posisi monopolistic yang lebih besar, kekuatan politik, dan prestise sosial.
  2. Kegiatan dagang yang membawa ke posisi monopolistic yang lebih besar yang tidak menambah sumber-sumber agregat.
  3. Kegiatan spekulatif yang tidak memanfaatkan tabungan, dan tidak memanfaatkan sumber kewirausahaan yang langka.
  4. Kegiatan yang menggunakan tabungan neto, tetapi investasinya hanya mencakup bidang-bidang usaha yang nilai sosial nya nol atau lebih rendah daripada nilai privatnya.
      Jadi, kegiatan zero-sum bukanlah kegiatan yang secara rill meciptakan pendapatan tetapi hanya sekedar pemindahan likuiditas dari satu orang ke orang lain. Oleh karena itu, upaya minimum kritis itu harus cukup besar agar tercipta iklim yang relevan bagi berlangsungnya rangsangan positive-sum.
Di dalam perekonomian terbelakang ada pengaruh tertentu yang bersifat anti perubahan, yang cenderung akan menekan pendapatan per kapita. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain :
  1. Kegiata zero-sum untuk mempertahankan hak-hak istimewa ekonomi yang ada melalui pembatasan peluang-peluang ekonomi yang memiliki potensi untuk berkembang
  2. Tindakan konservatif para buruh yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir untuk menentang perubahan.
  3. Adanya berbagai macam upaya yang menentang gagasan dan pengetahuan baru karena gagasan lama sudah tertanam dihati mereka.
  4. Adanya kenaikan pengeluaran konsumsi atas barang-barang mewah yang dinilai kurang produktif apabila dibandngkan dengan pengeluaran untuk kegiatan akumulasi modal.
  5. Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja mempunyai pengaruh pada berkurangnya modal yang tersedia per tenaga kerja.
      Untuk mengatasi semua kendala yang mengakibatkan suatu perekonomian berada dalam keadaan keterbelakangan, maka diperlukan upaya minimum kritis yang cukup besar untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi sehingga dapat memacu positif-sum dan menciptakan kekuatan untuk menandingi zero-sum. Sebagai hasil dari upaya minimum kritis itu, pendapata perkapita akan mengalami kenaikan sehingga tingkat tabungan dan investai akan terstimulasi. Perubahan-perubahan tersebut berdampak :
  1. Ekspansi agen pertumbuhan.
  2. Meningkatnya sumbangan mereka pada per unit modal.
  3. Semakin berkurangnya kekuatan dari faktor-faktor penghambat pertumbuhan.
  4. Penciptaan sebuah kondisi yang mampu meningkatkan mobilitas ekonomi dan sosial.
  5. Peningkatan spesialisasi, serta berkembangnya sector suknder dan tersier.
  6. Terciptanya iklim yang cocok bagi adanya perubahan, yang pada akhir nya perubahan tersebut dinilai bisa mengurangi laju pertumbuhan penduduk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar